Bercinta Di Warteg

1

Nama saya Heru, saat itu saya berumur 25 tahun, telah berkeluarga dengan istri bernama Meri, serta telah dikaruniai dua orang anak yang pertama berumur 3 tahun dan kedua berumur 1 tahun. Cerita ini bermula dari kebiasaan saya yang sering nongkrong di warteg di komplek tempat saya tinggal pada waktu santai.

Pemilik Warteg itu adalah sepasang pengantin baru yang baru 7 bulan menikah. Penjaganya adalah istri dari pengantin baru tersebut yang bernama Diana, sedangkan suaminya adalah seorang sopir bus AKAP, yang sering bertugas sampai berhari-hari baru pulang dan bernama Juanda. Saya dan istri sayapun kenal baik dan akrab dengan mereka.

Pada suatu hari yang telah saya lupa tanggalnya saya kembali nongkrong di Warteg itu yang pada saat itu suasana sudah mulai sepi karena hari sudah menjelang malam. Pada saat itu Diana sedang berkemas-kemas untuk menutup wartegnya. Saya lalu mengajak Diana mengobrol sambil dia berkemas-kemas.

“Kok sendirian Yan?” tanya saya. (Saya memanggilnya Dian/Yan)

“Iya nih Kak, Kak Juandanya tadi pagi baru berangkat!”

“Kemana?”

“Katanya hari ini tujuan Jakarta, dan sampai 8 hari baru bisa pulang,” katanya.

“Oh ya Kak saya tinggal dulu ya, mau mandi, habis dari tadi rame sih belum sempat mandi,” katanya lagi. Lalu Diana masuk ke dalam rumahnya untuk mandi.

Setelah setengah jam Diana keluar lagi dengan rambut yang masih basah, dan memakai daster yang membuat saya menahan napas karena kalau kena lampu kelihatan BH dan CDnya yang menerawang dari balik daster yang dipakainya, serta membawa secangkir kopi untukku, dan duduk di kursi yang ada di depanku. Harum sabun mandi yang dipakai saat mandi masih tercium saat Diana duduk, dan ini membuat nafsu saya agak tergugah dan tongkol saya mulai ngaceng.

“Diminum Kak kopinya,” katanya mempersilakan.

“Terima kasih,” jawabku sambil menghirup kopi yang disuguhkan.

“Apa enggak takut ditinggal sendirian,” tanyaku memulai obrolan.

“Ya enggaklah, kan tetangga di sekitar sini baik-baik Kak?” jawabnya.

Lalu obrolan kami terus berlanjut dan haripun bertambah malam. Karena suasana yang mulai sepi saya mencoba memancingnya dengan obrolan yang dapat membangkitkan gairah.

rev-6-1100

“Yan kamu nggak kesepian ditinggal suamimu berhari-hari gini?”

“Mau gimana lagi Kak, namanya juga tuntutan pekerjaan”

“Kasihan! Masa pengantin baru ditinggal kedinginan kaya gini”

“Ih, siapa lagi yang kedinginan?” jawabnya agak centil.

Merasa ada respon sayapun tambah semangat.

“Ya kan kasihan, orang pengantin baru itu biasanya kan kalau tidur selalu berpelukan biar tidak kedinginan”

“Siapa bilang kalau pengantin baru itu kalau tidur selalu berpelukan?”

“Buktinya kakak semasa pengantin baru selalu tidur berpelukan.”

“Enak dong Mbak Meri selalu tidur dipeluk kakak”

“Ya begitulah, kalau kamu mau, saya juga mau tidur pelukin kamu,” kata saya sambil bercanda.

“Ih kakak ini Piktor (pikiran kotor) deh”

“Emang Mbak Meri boleh kakak tidur pelukin cewek lain?” sambungnya.

“Ya jangan ketahuan dong,” jawabku, sambil aku memandang wajah cantiknya dan menanti responnya.

Diana lalu memandangku dengan tatapan yang menggoda.

“Kalau kakak tidur pelukin saya dan ketahuan Mbak Meri gimana hayoo?”

“Nggak mungkin ketahuan kalau kamu mau,” pancingku sambil bergeser duduk disampingnya, dan kugenggam tangannya yang tampak bergetar, dan ternyata Diana diam saja.

“Jangan disini Kak nanti ada orang lihat,” katanya.

Karena mendapat angin aku mengajak Diana masuk ke dalam rumahnya. Begitu masuk ke dalam rumahnya saya langsung menutup pintu dan memeluk Diana dari belakang. Semula dia menolak dengan alasan takut ketahuan. Aku yang sudah dikuasai nafsu terus merayu Diana yang masih ragu. Aku sudah tidak peduli apa-apa lagi kecuali menikmati tubuh Diana yang cantik ini. Aku membalikkan tubuh Diana dan langsung melumat bibirnya yang sexy itu.

“Mmhh,” desah Diana.

Aku terus menyerangnya dengan bergairah. Tangankupun tak tinggal diam, aku meremas buah dadanya yang montok dari balik dasternya.

“Mmhh Kak,” desahnya yang mulai terangsang.

Aku lalu membopong tubuh Diana ke kamarnya yang ditunjuk Diana dan merebahkannya di ranjang yang merupakan ranjang pengantin Diana. Lalu aku berdiri dan membuka baju dan celana panjangku agar tidak kusut, dan yang tertinggal hanya celana dalamku.

tongkolku yang dari tadi ngaceng tampak menonjol di balik CDku. Lalu aku mendekati Diana yang terbaring diranjang sambil memandangku. Aku kembali mengulum bibirnya yang sexy itu sambil tanganku mengelusi pahanya yang putih. Diana menyambut ciumanku dengan bernafsu. Setelah puas aku melanjutkan ciumanku ke lehernya yang jenjang dan secara perlahan-lahan aku membuka dasternya, dan dilanjutkan dengan BH dan CDnya. Kini tubuh Diana yang mulus terpampang pasrah di ranjang. Kemudian aku menciumi buah dadanya yang kiri sedangkan tanganku meremas buah dadanya yang kanan.

“Aww… geli Kak,” rintihnya yang membuat aku tambah bersemangat.

“Buah dada kamu bagus Yan” kataku.

“Emang punya Mbak Meri jelek ya?” tanyanya menggodaku.

“Bagusan punya kamu” kataku merayunya.

“Aahh enak Kak, terus Kak, isap Kak yang kuaat” rintihnya.

Setelah puas dengan buah dadanya ciumanku aku lanjutkan ke bawah menyusuri perutnya yang ramping terus ke bawah hingga menyentuh bulu bulu halus diatas memiawnya. Lalu aku mulai menjilati memiawnya yang telah basah oleh cairan birahi.

“Aahh enak Kak, diapain Kak memiawku,” rintihnya.

“Terus Kak aahh!! Enak sekali Kak, Kak juanda tidak pernah mau begini Kak aahh!!” rintihnya lagi.

Sesaat kemudian Diana menekan kepalaku semakin dalam di memiawnya, dan ternyata dia mendapat orgasmenya yang pertama. Kemudian aku naik untuk mencium bibirnya kembali dan disambut dengan buas oleh Diana.

“Enak nggak Yan?” tanyaku.

“Enak sekali Kak,” jawabnya

“Emang Juanda nggak pernah ya?”

“Enggak Kak, jijik katanya”

“Tolol sekali dia,” batinku.

“Buka dong Kak CDnya”

“Diana dong bukain”

“Ih Kak Heru manja deh,” katanya sambil membuka CDku.

tongkolku yang sudah tegang dari tadi langsung meloncat keluar begitu CD ku diturunkan oleh Diana. Tampak Diana terbelalak melihat tongkolku.

“Besar sekali Kak,” katanya kaget.

“Emang punya suamimu kecil ya?” tanyaku.

“Paling setengah dari punya kakak,” katanya sambil meremas tongkolku.

“Aahh enak Yan” desahku

“Enak nggak Kak tongkol sebesar ini masuk dimemiawku nanti?” tanyanya.

Aku tersenyum sambil mengangguk.

“Jilati Yan” pintaku.

Lalu Diana menunduk untuk mencium tongkolku yang super menurutnya.

“Aahh enak, enak Yan jilati terus Yan aahh!!” rintihku.

Lalu Diana memasukkan tongkolku ke dalam mulutnya, dan mengulum tongkolku. Tampak Diana kesusahan mengulum tongkolku yang besar didalam mulutnya. Setelah beberapa saat aku menarik Diana keatas dan membaringkannya secara telentang. Diana mengerti dan segera membuka pahanya lebar lebar. Aku segera mengarahkan tongkolku dan menyentuh lobang memiawnya yang semakin banjir oleh cairannya.

“Lambat-lambat Kak, aku belum pernah dimasuki tongkol sebesar itu” pintanya.

Aku tersenyum memandangnya sambil mengangguk.

“Aaww… Kak, sakit Kak aahh!!”

Aku menghentikan dorongan pantatku dan mendiamkannya sejenak. Setelah Diana tenang kembali aku mendorong laju tongkolku ke dalam memiawnya.

unnamed (1)

“Aaww Kak enak!! Terus Kak enak, tongkol kakak enak Kak, aawwuuhh enak tongkol kakak besar enak,” erangnya dengan liar.

Mendengar itu aku tambah bersemangat untuk memompa tongkolku didalam memiawnya. Kemudian aku memeluknya sambil berbisik ditelinganya,

“Enak nggak tongkol kakak?”

“Oohh enak sekali Kak, tongkol kakak enak sekali, besar panjang sampai sesak memiaw diana” racaunya dengan Vulgar.

Mendengar itu aku terpancing untuk melayani racau Vulgarnya.

“Enak mana tongkol kakak dengan tongkol suamimu?” tanyaku.

“Lebih enak tongkol kakak, tongkol kakak tiada duanya oohh!! Aahh” rintihnya.

“memiaw kamu juga enak, legit juga sempit sepeti perawan” kataku.

Mendengar itu Diana lalu bertanya,

“Enakan mana memiaw Diana dengan memiaw Mbak Meri aaww!! Oohh!!”

“Sama sama enak, tapi lebih enak punya Diana karena masih sempit,” jawabku sambil terus memompa tongkolku.

Tak lama kemudian aku merasa akan segera meledak begitu juga dengan Diana.

“Aahh aku mau keluar Yan”

“Diana juga Kak”

“Kita keluarkan sama sama Yan, aahh!! Oohh keluarkan dimana Yan?”

“Keluarkan didalam saja Kak aahh,” jerit panjang Diana, lalu akupun menyusul.

“Aahh!!” jeritku sambil memeluk erat Diana.

Kemudian kami berdua terkulai lemas setelah pertempuran panjang itu. Aku mencium kening Diana lalu mengecup bibirnya.

“Terima kasih Yan”

“Sama-sama Kak”

Lalu aku segera turun dari ranjang dan berpakaian karena tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB. Sebelum pulang aku kembali menghampiri Diana yang masih tergolek lemas di ranjang dan melumat bibirnya, sambil berjanji untuk mengulanginya.

Setelah dirumah ternyata istri dan anak-anak telah tidur.

Dan pada saat suami Diana tak ada di rumah kamipun kembali melakukannya, baik di rumahnya maupun di hotel, sampai suami Diana berhenti dari pekerjaanya, karena Diana telah melahirkan bayi dan harus merawat bayinya.

Sampai saat ini saya dan Diana masih tidak dapat memperhitungkan sebenarnya bayi yang dilahirkannya itu merupakan benih dari siapa, apakah benih dariku atau suaminya, karena kalau dilihat secara teliti wajah sang bayi sangat mirip suaminya tetapi badan si bayi sangat mirip denganku. Namun demikian masalah ini sampai sekarang tidak pernah dipermasalahkan oleh suami Diana sehingga perselingkuhanku dengan Diana tidak pernah terbongkar dan kami dua keluarga tetap bersahabat dan tetap akrab.