Puncak Kenikmatan Ternikmat

1

Lembayung mulai melingkupi ufuk langit. Ratusan perdu kini tinggal bayang-bayang hitam, seperti serdadu bergerombol dalam diam. Angin tak terlalu kencang, tetapi tentu saja dingin. Puncak gunung ini cukup tinggi untuk ukuran para pendaki pemula. Dalam remang yang menemaram, Rima duduk di tanah memeluk lututnya, memandang ke depan sana: kabut tipis di mana-mana. Jaket besar-tebal membungkus tubuhnya, memberi hangat yang lumayan.

Tubuhnya letih, tetapi hatinya lapang. Setelah mendaki empat jam penuh, Rima merasa nikmat-hikmat duduk memandang Sang Teja yang bersiap menggelap. Sebentar lagi langit akan berubah menjadi hamparan hitam maha luas. Lalu akan ada satu dua bintang, sebelum akhirnya jutaan-milyaran kerlap-kerlip akan memenuhi semesta maha tinggi itu. Pada saat seperti itulah Rima dan selusin pendaki lainnya akan merasa sekecil butir debu. Merasa seperti kutu tak berdaya di bawah naungan alam yang amat perkasa. Merasa akan dengan mudah terhembus lenyap dari muka bumi jika alam berniat begitu.

Seorang pendaki lamat-lamat menyanyikan puja-puji kepada alam, diiringi harmonika temannya. Rima ikut berbisik mengucap syairnya. Hatinya terasa dipenuhi rasa lega karena ternyata bumi begini luas. Ternyata kepada kita disediakan begitu banyak kelapangan-keleluasaan. Tidak ada tembok di sini. Tidak ada atap. Semuanya terbuka-terhampar.

Betapa bedanya di bawah sana, di tempat yang hiruk-pikuk dan sempit oleh rumah, gedung, jembatan, pagar-tembok, tangsi militer, toko, rumahsakit… entah apa lagi! Betapa terhimpitnya di bawah sana, dan betapa banyaknya masalah. Setiap hari di bawah sana ada masalah menyerbu bagai banjir bandang. Kadang-kadang itulah yang menyebabkan kita tenggelam, atau hanyut, atau terlindas-tandas. Kita tidak bisa lari, karena kesana-kesini terbentur tembok. Ada banyak tembok kasat mata. Tak kurang banyak pula tembok maya-nestapa. Semuanya siap mencegah sembari ikut merajah-rajam.

Rima menarik nafas dalam-dalam, memenuhi dadanya dengan udara segar yang bisa mengusir keluh di hatinya. Seandainya hidup ini selalu luas-lapang seperti di puncak gunung, tentu tak akan ada gundah. Tentu semuanya akan nyaman belaka. Tetapi,…. Rima menghempaskan nafasnya kuat-kuat, tetapi hidup ini bisa menjadi bajingan. Life is a bitch!. Hidup ini sungguh tak mau kompromi. Bahkan kepada seorang gadis kecil yang kehilangan Ibunya sewaktu masih berusia 5 tahun…

******

Rima menggigit bibirnya sendiri setiap kali ingat Ibu. Ia tak pernah ingat wajah Ibu yang sesungguhnya, karena itulah ia hanya bergantung kepada sebuah foto yang kini hampir lusuh di dompetnya. Dari foto itu Rima bisa selalu mengenang matanya yang teduh tetapi agak sipit. Terlahir dari keluarga campuran, ibunya termasuk cantik sekali. Rambutnya yang ikal datang dari Kakek yang berasal dari Indonesia Timur. Bibirnya yang tipis dan matanya yang sedikit sipit datang dari Nenek yang masih punya kerabat di Hong Kong. Foto hitam-putih itu dibuat di sebuah studio, memperlihatkan Ibu ketika berusia 20-an, sebelum menikah dengan Ayah. Cantik sekali, Ibu mengerling tajam, dengan tubuh putih-mulus dibalut kebaya modern.

Di setiap puncak gunung di mana pun Rima mendaki, selalu ia sempatkan berbisik ke langit, “Ibu, Rima rindu padamu. Peluklah Rima dari atas sana.”.. Dan seperti nyata, Ibu pun datang memeluknya dalam bentuk kabut tipis yang merayap pelan-pelan di sekujur tubuh. Atau dalam bentuk kelam-malam yang membungkus semua isi alam. Atau dalam bentuk wangi edelweis yang merebak di pagi hari.

Ketika Rima masih kecil, ia tak pernah tahu apa arti Ibu yang tiada. Baru setelah berusia belasan, setelah Ayah semakin sering pulang malam atau tidak pulang selama 3 hari berturut-turut, Rima tahu mengapa Ibu sebaiknya hadir di setiap rumahtangga. Juga ketika salah seorang kakak pria-nya (Rima adalah satu-satunya wanita) meninggal akibat over-dosis, Rima pun sadar bahwa Ayah adalah pria yang tak berdaya. Kakaknya yang tertua menghilang dari rumah ketika Rima berusia 12 dan baru muncul lagi ketika Rima lulus SMA. Ia ingat, kakaknya datang dengan sebuah motor Harley Davidson, dengan tubuh penuh tatoo. Lalu ia mendengar kakaknya bertengkar riuh dengan Ayah di ruang tamu. Lalu Ayah terjengkang ditinju kakaknya, dan Rima berdiri saja di bingkai pintu seperti menonton film Kung Fu.

Mengapa ia tidak menjerit melihat hidung Ayahnya berdarah? Mengapa ia sering ikut merasa ingin meninju hidung itu? Mengapa ia tidak bisa melupakan perempuan yang dibawa Ayah dan disetubuhinya di kamar Ibu? Mengapa ia tetap geram kalau ingat gelas yang dilemparkan kepadanya ketika Ayah mabuk di ruang tamu? Mengapa ia sering tak mau menuruti perintah Ayah? Mengapa ia sering berharap agar Ayah masuk penjara atau tewas di jalan raya? Mengapa….?

Rima menunduk, menyembunyikan mukanya di antara kedua lututnya. Malam di puncak gunung sudah semakin gelap. Salah seorang pendaki berteriak mengatakan bahwa api unggun sudah menyala. Seorang lainnya menegur Rima dan menawarkan rokok. Ada juga suara-suara lain di sekelilingnya. Ada tawa. Ada nyanyi. Ada teriakan-lepas. Ada cekakak-cekikik. Rima diam saja membiarkan dirinya terbungkus oleh aneka suara itu.

******

“Aku tidak percaya ungkapan ‘alam yang kejam’…,” ucapan Kino terngiang di telinga Rima, “Alam selalu bersahabat. Lihatlah!” kata pemuda itu sambil membentangkan tangannya.

Dan Rima ingat, itulah pertama kali ia berdiri di puncak sebuah gunung yang tidak terlalu tinggi. Itulah saat ia resmi menjadi anggota Pencinta Alam bersama-sama Kino. Itulah pula saat ia melirik ke pemuda jangkung di sebelahnya dan berbisik dalam hati,.. siapa pacarnya?

Bagi Rima, pemuda atau lelaki atau cowok bukan mahluk asing. Ayahnya adalah salah satu contoh mahluk itu. Seluruh kakaknya adalah mahluk itu pula. Pacar-pacarnya, dari sejak SMP sampai detik ini, adalah mahluk itu pula. Maka bagi Rima tidak ada yang asing dari pemuda di sebelahnya ini. Kecuali satu… pemuda ini mengajaknya naik gunung, sementara yang lain biasanya ingin menaiki “gunung”-nya yang tak terlalu besar itu!

“Banyak yang mati waktu naik gunung,” kata Rima waktu itu, mencoba mengundang perdebatan.

“Lebih banyak yang mati di jalan raya,” jawab Kino kalem.

“Kalau orang yang naik gunung sama banyaknya dengan yang di jalan raya, mungkin yang mati di gunung akan lebih banyak,” sergah Rima tak mau kalah.

“Kalau orang yang naik gunung segitu banyak, gunungnya meledak dan semuanya mati!” kata Kino, dan Rima tertawa tergelak-gelak mendengar jawaban telak itu.

Kino selalu bisa membuatnya tertawa. Pemuda itu mempesonanya sejak awal, karena Rima lahir dan besar di tengah kakak-kakaknya yang brengsek. Salah satu kakaknya -yang nomor dua- sering menampar. Kakak yang lain pernah memperlihatkan buku porno kepadanya, dan meraba dada dan pantatnya ketika ia masih SMP. Kakak itulah yang kemudian tewas OD. Kakak tertuanya -yang meninju Ayah itu- adalah pemimpin salah satu kelompok gangster ibukota. Kakak tertua ini yang sering memberinya uang dan mengajarinya minum bir, selain membekalinya dengan pil anti hamil dan sekotak kondom. Bagi Rima, Kino adalah kebalikannya dari semua itu!

Rima “menemukan” Kino dalam suasana perploncoan yang seru. Pemuda itu sedang duduk di bawah gerbang kampus, membaca Proklamasi keras-keras dan berulang-ulang. Sementara ia sendiri harus berdiri di seberang jalan sambil memberi hormat ke setiap angkot yang lewat. Ketika hukuman bagi keduanya usai, mereka berjalan beriringan tak sengaja, dan saling tukar senyum untuk sekedar merasa senasib.

Lalu mereka sering bersama-sama, dan akhirnya Kino berhasil membujuknya ikut mendaki. Rima ingat sekali, sebelum mendaki ia sedang gundah karena Ayahnya memberi kabar bahwa ia akan menikah. Gila, sudah setua itu mau menikah. Mengapa tidak segera setelah Ibu meninggal saja ia menikah? Mengapa harus menunggu, dan menyiksa diri sekaligus anak-anaknya, sebelum memutuskan menikah? Rima marah sekali waktu itu. Begitu marahnya sampai ia merasa putus asa dan berpikir tentang bagaimana caranya menemui Ibu secepatnya!

“Ayolah, di gunung kita bisa berpikir lebih jernih!” desak Kino ketika mendengar alasan Rima bahwa ia sedang suntuk.

“Nggak, ah! Capek jalan jauh..,” Rima menolak.

“Nanti aku gendong!” sergah Kino sambil membungkuk memperagakan kesiapan untuk menggendong. Rima tertawa sambil mencubit lengan pemuda itu.

“Tinggi, nggak, gunungnya?” tanya Rima mulai ragu atas penolakannya sendiri.

“Ah, tidak. Kelihatan dari sini, kok!” kata Kino bersemangat.

“Dasar bego,… bulan juga kelihatan dari sini!” sergah Rima sambil mencubit lagi. Ia senang sekali mencubiti Kino karena pemuda ini rupanya tahan cubitan.

Akhirnya ia berangkat, dan ternyata memang gunungnya tak terlalu tinggi selain juga landai. Betapa benarnya Kino, puncak gunung ternyata memberinya udara segar yang dengan cepat menjernihkan keruh di benaknya. Puncak gunung ternyata mampu menghapus Ayah dari pikirannya. Baru kali ini Rima merasa bisa lepas dari bayang-bayang lelaki tua itu!

Sejak itulah ia terpikat pada Kino, selalu ingin didekatnya, dan berharap pemuda itu juga menyukainya. Tetapi Kino ternyata cuma senang berdekatan. Kino ternyata tak menyukainya sebagaimana ia berharap pemuda itu menyukainya. Kino ternyata hanya mau jadi sahabatnya. Rima sempat terluka, dan berdiri lama di depan cermin: apakah aku kurang cantik?

Tetapi lama kelamaan bisa Rima menerima penolakan pemuda itu, dan mereka kemudian menjadi sahabat-karib saja. Itu pun sudah cukup bagi Rima.

*****

“Hei, melamun lagi!” hentak seseorang.

Rima mengangkat muka, menemukan wajah tegar Yardin, sang pemimpin pendakian. Tersenyum, Rima menarik tangan pemuda itu, mengajaknya duduk dekat-dekat.

“Apa yang kamu pikirkan?” tanya mahasiswa jurusan sipil yang lebih tinggi dua tingkat dari Rima itu. Ia duduk dekat sekali di sisi gadis itu. Bahu mereka bersinggungan akrab.

“Macam-macam…. Ujian semester, perang di Timur Tengah, nasib Tim Bulutangkis, pengaruh gerhana matahari terhadap kesehatan…,” kata Rima sambil menelusupkan tangannya di bawah lengan Yardin.

“Tidak satu pun ada yang relevan untukku,” sela Yardin dengan nada mengeluh.

Rima tertawa. Ia tahu, pemuda ini memancing percakapan lebih intim. Pasti pemuda ini ingin Rima menjawab dengan “memikirkan kamu” atau yang semacamnya. Sayang sekali, Rima memang tidak memikirkannya.

“Kenapa, sih, kamu tidak pernah memikirkan sesama mahasiswa?” desak Yardin.

“Lho, kok bisa menyimpulkan begitu. Aku sering memikirkan sesama mahasiswa,” sahut Rima menahan senyum.

“Misalnya, memikirkan aku, …begitu?” ucap Yardin nekad.

“Ya. Aku sering memikirkan kamu,” jawab Rima sambil mempererat pelukannya di lengan pemuda itu. Ia memang sayang kepada pemuda yang maha-penolong kepadanya ini. Ia tahu pemuda ini berminat kepadanya. Sangat berminat, bahkan!

“Apa yang kamu pikirkan?” tanya Yardin menoleh, memandang dari jarak dekat wajah Rima yang tomboy tetapi manis itu. Ia suka pada mukanya yang halus tak berjerawat itu, pada hidungnya yang mungil dan lucu itu, pada matanya yang membola-mempesona itu.

“Banyak!” sergah Rima sambil menyandarkan kepalanya di bahu Yardin.

“Tolonglah, ungkapkan satu saja di antaranya,” kata pemuda itu penuh permohonan.

“Perbuatan kamu seminggu yang lalu, misalnya,” kata Rima.

Segera Yardin menegakkan duduknya. Sekujur tubuhnya menegang, dan Rima tersenyum sambil tetap menyandar di bahu pemuda itu. Aku menyentuh sebuah titik sensitif, bisik Rima dalam hati.

“Aku, kan, sudah minta maaf, Rima…,” kata Yardin dengan suara pelan.

Rima tertawa kecil, “Dan aku, kan, sudah memaafkan.”

“Tetapi kenapa diungkit lagi?” tanya Yardin masih dengan suara pelan.

Rima tertawa lagi, “Lho, katanya ingin tahu apa yang aku pikirkan!”

“Berarti kamu belum memaafkan,” sergah Yardin cepat.

“Memikirkan dengan memaafkan, kan, bisa sejalan. Bagaimana, sih, kamu!?” sergah Rima tak kalah cepat.

“Malam itu aku tidak bermaksud begitu…,” kata Yardin, tetapi segera dipotong Rima,

“Alaaah!… ngga usah diulang. Aku tahu kamu tidak bermaksud meraba-raba dan mengajak bercumbu begitu jauh.”

“Ssst!” Yardin menempelkan telunjuk di bibirnya sambil melihat berkeliling. Ia takut ucapan Rima terdengar yang lain, walaupun sebenarnya mustahil karena angin mulai mengencang mengeluarkan suara berkesiut.

Rima tertawa kecil dan dengan suara pelan berkata, “Aku tahu kamu suka, walaupun kamu tidak bermaksud. Aku tahu kamu ingin kita berbuat lebih jauh, walaupun kamu tidak bermaksud. Kenapa, sih, musti minta maaf terus?”

“Jadi, apa yang kamu ‘pikirkan’ itu?” desak Yardin.

Rima menarik lengan pemuda itu, merapatkannya lebih dekat ke tubuhnya, lalu mencium sekilas pipinya, sambil berbisik, “Aku tidak keberatan, tetapi tidak harus begitu jauh, dan tidak harus menuntut aku jadi pacarmu.”

Terdengar Yardin menghela nafas lega dan menundukkan kepalanya. Diambilnya sebutir batu kecil, dilemparkannya ke depan, ke tempat gelap.

“Satu lagi…,” kata Rima masih dengan berbisik.

“Apa?” kata Yardin sambil menengok, menemukan sepasang mata bening menatapnya tajam.

“Kalau aku bilang tidak, artinya tidak. Kalau aku bilang mau, bukan berarti seterusnya mau,” ucap Rima tanpa berkedip.

Yardin menunduk lagi, lalu berucap pelan, “Padahal aku berharap kamu mau jadi pacarku, Rim. Aku bukan cuma ingin bercumbu.”

“I know..,” ucap Rima, “Tetapi aku tidak mau jadi pacarmu. Aku tidak mencintaimu, walau aku suka padamu”

“Apakah karena ada yang lain?” desak Yardin.

“Ada,” jawab Rima, tetapi buru-buru ia melanjutkan, “Jangan tanya namanya, karena tidak akan kujawab.”

Yardin terdiam. Ia mendengar selentingan, salah satu sahabat Rima (semua isi kampus tahu empat sahabat itu: Rima – Ridwan – Tigor – Kino, R2TK) adalah kekasih Rima. Tetapi mana mungkin, karena Rima tetap mau diajak naik gunung terpisah dari sahabatnya, dan tetap mau dicium bahkan diraba-raba seperti minggu lalu. Tetapi Rima juga bukan gampangan, dan Yardin sebetulnya merasa bangga terpilih sebagai orang yang boleh mencumbunya, walau “serba tanggung”. Ah, rumit sekali gadis ini, keluh Yardin dalam hati.

“Hei, gantian kamu yang melamun!” sentak Rima.

Yardin menghela nafas dalam-dalam, “Makan malam, yuk!” ujarnya mengalihkan topik.

“Oke,” sahut Rima riang, “Tetapi cium dulu, dong!”

Yardin mencium pipi Rima yang dingin karena angin gunung itu, lalu bangkit dan menarik gadis itu ikut bersamanya. Malam itu mereka menyantap lontong yang dibawa dari rumah, dengan lauk dua kerat dendeng manis. Sedap sekali!

******

Jadi kini ada dua hal penting dalam kehidupan Rima: gunung dan lelaki….

Ia menyukai yang pertama. Sedangkan yang kedua… hmmm… ia sering terlibat kontradiksi dan ironi. Ia kehilangan figur Ayah sepanjang hidupnya, sehingga ia berkembang menjadi tomboy. Tetapi pada saat yang sama ia merindukan pelukan-rengkuhan, sehingga ia juga sering berganti pacar, dan sering membiarkan pacar-pacarnya berlaku sebagaimana layaknya lelaki kepada lawan jenisnya.

Bagaimana jika keduanya -gunung dan lelaki- bergabung? Macam-macam pun bisa terjadi. Ada peristiwa yang paling berkesan ketika Kino mencium tetapi menolak ajakan bercumbu (baca Serial Kino, episode… cari ndili, deh!). Ada peristiwa lucu ketika para lelaki berebut membantunya untuk menarik perhatiannya. Ada peristiwa sedih ketika seorang lelaki jatuh dan patah kakinya, sementara Rima adalah satu-satunya wanita saat itu. Ada pula peristiwa bergairah, seperti malam itu ketika Yardin kembali menciumnya di balik batu di seberang api unggun.

“Bibir kamu manis sekali,” bisik pemuda itu disela-sela pagutan-kulumannya.

“Itu, kan, rasa dendeng,” bisik Rima sambil membiarkan bibir bawahnya digigit perlahan.

Yardin tertawa pelan, “Mmmm…,” ia mengulum bibir Rima, “Boleh aku kunyah bibir ini?” bisiknya.

“Jangan,” desah Rima, “Nanti aku berubah jadi kuntilanak, lho!”

“Mmmm.. bikin gemes saja kamu,” Yardin kembali mengulum bibir Rima dengan Semangat Empat Lima.

“Mmmm…,” Rima mengerang. Tangannya merangkul leher pemuda itu. Tubuhnya tersembunyi jaket besar dan bayang-bayang batu yang bergerak-gerak sesuai gerak api unggun.

“Tanganku kedinginan, Rim..,” bisik Yardin sambil menelusupkan tangannya ke bawah jaket gadis itu.

“Alaah!.. bilang saja pengin memegang-megang,” sergah Rima sambil menggigit bibir Yardin. Pemuda itu mengaduh, tetapi dengan cepat pula menelusupkan tangan ke bawah kaos wol gadis itu.

“Hiiiy… dingin!” Rima bergidik merasakan telapak tangan pemuda itu melintas di atas behanya.

“Nanti juga hangat,” bisik Yardin sambil menciumi leher Rima, membuat gadis itu menggelinjang kegelian.

“Aku hitung sampai tiga, kalau tidak segera hangat, kamu harus keluarkan lagi tangan itu!” ancam Rima lalu memulai hitungan, “Satu….”

Yardin tertawa tertahan, menggigit dagu Rima, dan cepat-cepat memasukkan tangannya ke balik beha gadis itu. Hmm.. hangat sekali, dan halus sekali. Tidak terlalu besar, dada yang selalu terbungkus kaos tebal itu. Tetapi tetap saja menggairahkan untuk dielus-elus dan diremas.

“Dua….,” Rima melanjutkan hitungan, lalu mengerang, “Oooh…”.

Yardin membawa tangannya ke puncak salah satu payudara Rima. Dengan jari-jarinya ia meraba-raba puting yang segera tegak-mengeras.

“Ngg..,” Rima mengerang dan mencoba mengatur nafasnya yang tiba-tiba memburu, “Dua setengah….,”

Yardin tersenyum dalam hati, sambil terus mempermainkan puting Rima yang kini sudah sepenuhnya berdiri. Sambil diselingi meremas-remas. Sambil menciumi terus leher yang harum. Rima menggelinjang gelisah.

“Aaah,.. Yardin,” Rima mendesah gelisah,”Ngga usah dihitung lagi, ya?”

“Terserah..,” jawab Yardin sambil menahan senyum dan menciumi bahu Rima di balik jaketnya.

“Cium, dong ..,” desah Rima.

Yardin mengangkat mukanya dari bahu gadis itu dan mulai mencium bibirnya, tetapi..

“Bukan cium bibir..,” sergah Rima setelah membiarkan pemuda itu sejenak mengulumnya.

“Oh!.. cium yang itu. Sorry!” kata Yardin sambil melepaskan ciumannya, lalu menelusupkan kepalanya ke bawah, ke balik jaket Rima.

Gadis itu melihat ke sekeliling. Beberapa pendaki tampak asyik bernyanyi-nyanyi di sekitar api unggun. Ada juga yang sudah bersiap tidur meringkuk di sleeping bag. Tidak ada yang melihat ke arah batu tempat mereka bercumbu. Maka dengan hati-hati Rima mengangkat kaosnya dan melebarkan jaketnya untuk menyembunyikan kepala Yardin. Kalau ada orang menengok ke arah mereka, dan kalau pemandangan tak terhalang bayang-bayang, maka akan terlihat Rima seperti sedang memeluk sesuatu yang terbungkus jaket!

Begitu Yardin mulai mencium dan menjilat dan mengulum puncak payudaranya, Rima terpejam nikmat sambil menggeliat dan memeluk erat-erat pemuda itu ke dadanya. Ia bersandar ke batu di belakangnya, membiarkan tubuhnya seperti tersiram air hangat dari ujung rambut sampai ujung jempol kakinya. Nafasnya mulai memburu, apalagi Yardin kadang-kadang menyedot dan menggigit-gigit kecil. Setiap kali pula Yardin melingkar-lingkarkan lidahnya di pangkal puting susunya yang sudah basah itu. Sebuah getaran halus mulai terbentuk di selangkangannya, dan Rima pun merenggangkan kakinya.

Yardin merasakan Rima bergerak-gerak gelisah. Ia menelusupkan satu tangannya ke bawah, menerobos celana jeans yang membungkus ketat pinggang gadis itu. Rima menarik nafas dalam-dalam agar perutnya mengempis dan agar tangan pemuda itu bisa menelusup. Yardin pun tak menunda lagi, merasakan telapak tangannya meluncur deras di atas kulit mulus, lalu tiba di balik celana dalam yang hangat.

Rima mengerang ketika jari tengah Yardin mulai dengan nakal dan cekatan melakukan gerakan-gerakan mengelus sambil menelusup sambil mengitik. Cepat sekali ia merasakan tubuhnya dipenuhi tanda-tanda orgasme. Seluruh otot tubuhnya menegang. Jantungnya berdegup lima kali lebih cepat. Nafasnya semakin memburu. Pinggulnya terasa penuh. Kewanitaannya terasa geli-gatal-nikmat. Tubuhnya bergetar seperti mobil yang dilarikan kencang tetapi dengan persneling rendah.

Sejenak sebelum dirinya terlena dalam perjalanan menuju orgasme, Rima teringat bahwa pemuda itu belum mendapat imbalan atas gairah yang dibangkitkan di tubuhnya. Betapa egoisnya aku, desah gadis itu dalam hati, lalu mulai menelusupkan tangannya ke bawah perut Yardin. Ia menemukan kejantanan pemuda itu telah menegang-menegak meminta perhatian. Dengan konsentrasi yang terbagi antara menikmati dan memberikan kenikmatan, Rima pun mulai mengelus, meremas, mengurut. Yardin mengerang tanpa melepaskan ciuman dan kulumannya di dada Rima.

Sejalan dengan malam yang bertambah kelam, percumbuan mereka pun semakin bergairah. Gerakan-gerakan mereka semakin cepat, berpadu serasi dan tetap dalam kurungan jaket besar dan terlindung bayang-bayang batu besar.

Rima menjepit tangan Yardin ketika orgasmenya datang tanpa bisa ditahan lagi. Pada saat yang sama, ia mempercepat gosokan tangannya di balik jeans pemuda itu. Yardin mengerang-erang, dan menyedot payudara gadis itu seperti seorang bayi yang kehausan. Rima menahan erangannya dengan susah payah, melentingkan tubuhnya, meregang dan meregang….

“Oooh!” sebuah jeritan kecil tak bisa tertahan keluar dari mulut Rima.

“Uuuh!” Yardin juga mengerang keras ketika ejakulasi yang amat kuat menyentak tubuhnya seperti orang kena setrum 1000 volt.

Salah seorang pendaki samar-samar mendengar jeritan itu di antara nyanyian teman-temannya. Ia menengok ke arah sumber suara, tetapi cuma melihat sebuah batu besar dan kegelapan di sekitarnya. Ia mengernyit, mencoba menembus gelap, tetapi gagal melihat apa-apa.

“Paling-paling si Rima dan si Yardin…,” ujar salah seorang pendaki yang sedang meringkuk di dalam sleeping bag ketika melihat temannya celingukan

“Ngapain mereka?” kata pendaki yang masih mencoba-coba mengintip dalam gelap itu.

“Main petak umpet” sahut yang di dalam sleeping bag sambil tertawa.

Pendaki yang tadi mendengar erangan Rima dan Yardin menggeleng-gelengkan kepala sambil berucap pelan, “Asal jangan gituan. Nanti kita semua kuwalat.”

Dari dalam sleeping bag, temannya menyahuti sambil menahan tawa, “Jangan kuatir. Paling-paling cuma senggol-senggolan.”

Temannya ikut menahan tawa sambil mengeluh, “Kapan aku dapat pasangan untuk senggol-senggolan?”

“Kamu harus lebih sering mandi pagi, baru dapet!” sergah temannya sambil tertawa tergelak.

******

Satu hal yang membuat Rima sendiri heran adalah kenyataan bahwa walaupun pacarnya berganti-ganti setiap tahun, ia tetap bisa mempertahankan kegadisannya. Ia selalu bisa menolak -kadang-kadang dengan kasar- kalau ada lelaki yang mengajak bercumbu lebih jauh. Ia menikmati rabaan dan kelitikan di mana saja di tubuhnya, tetapi ia menolak setiap kali pacarnya mencoba all in. Setiap kali pacarnya sudah siap melanjutkan percumbuan secara maksimal, Rima teringat Ayah dan sebentuk rasa benci segera menyelinap. Maka, setiap kali pula gairah gadis itu seperti api disiram air es. Langsung padam.

Percuma ia dibekali pil anti hamil atau sekotak kondom oleh kakaknya yang tertua. Ia tidak pernah memakainya, karena merasa tidak memerlukannya. Ia menikmati seks, tetapi tidak punya cukup alasan untuk bersetubuh. Baginya, bersetubuh akan menimbulkan persoalan besar. Kenapa? Karena setiap kali gairahnya sedang memuncak, dan setiap kali ia juga sebenarnya ingin melanjutkan percumbuan ke jenjang tertinggi, selalu terbayang peristiwa itu…

Waktu itu ia baru berusia 15 tahun. Sepulang sekolah yang lebih awal dari biasanya, Rima menemukan rumah dalam keadaan kosong, tetapi pintu tak terkunci. Ia heran, tetapi tanpa wasyangka langsung masuk dan menuju dapur untuk minum. Ia memang haus. Bibi Iyem tidak ada, mungkin sedang mengambil jemuran. Mobil BMW Ayah ada di halaman, tetapi Pak Ujang supirnya tidak kelihatan, mungkin sedang tidur-tiduran di gardu jaga.

Setelah minum, Rima melangkah ringan ke tangga menuju lantai dua. Rumah mereka besar sekali dengan 7 kamar dan sebuah ruang keluarga yang luas. Dari ruang keluarga ini ada tangga melingkar ke atas. Kamar tidur Rima ada di lantai dua itu, di sebelah kamar tidur Ibu, yakni sebuah kamar besar yang dibiarkan kosong sejak Ibu meninggal. Menurut Ayah, kamar itu dulunya kamar tidur utama. Kini kamar itu terlalu banyak meninggalkan kenangan tentang Ibu, sehingga Ayah pindah tidur di kamar di bawah. Rima merawat kamar itu, seakan-akan Ibu masih ada.

Sambil menggumamkan lagu kesayangannya, gadis itu melangkah ringan ke kamarnya. Tetapi langkahnya terhenti ketika mendengar erangan dan rintihan dari kamar sebelah. Sambil mengernyitkan dahi karena keheranan, Rima bersijingkat menuju pintu yang tampaknya tidak tertutup dengan baik. Dengan satu tangan ia mendorong pintu itu, dan apa yang terlihat membuatnya terkesiap.

Di situ, di ranjang besar yang jarang ditiduri itu, terlihat Ayah sedang menggumuli seorang wanita muda yang telanjang bulat. Erangan dan rintihan datang dari wanita itu. Tubuh Ayah juga telanjang dan berpeluh bergerak naik turun penuh energi. Mereka berdua rupanya sedang dalam puncak birahi, sehingga sama sekali tak tahu ada Rima yang berdiri tertegun di pintu. Segalanya terlihat jelas oleh Rima.

Pemandangan itu sangat memukul perasaan si gadis remaja. Hatinya hancur luluh menyadari bahwa Ibu ternyata telah tersingkir jauh dari kehidupan Ayah. Sulit baginya untuk mengerti, mengapa Ayah harus melakukan kegiatan menjijikkan itu di ranjang Ibu. Mengapa ia sanggup melakukannya di bawah foto besar Ibu, di atas seprai putih yang digantinya setiap minggu?

Sejak saat itu, persetubuhan sepasang manusia punya konotasi buruk di benak Rima. Tetapi, akibat pergaulannya, Rima juga tahu bahwa seks itu memberikan kenikmatan. Apalagi kakak-kakaknya sangat liberal, dan membiarkan Rima menonton koleksi video porno mereka. Rima menonton berbagai adegan di layar kaca sejak SMP, tetapi melihat Ayah melakukannya di ranjang Ibu, gadis ini jadi benci pada persetubuhan. Kontradiksi inilah yang terbawa sampai sekarang, membuat hidup Rima juga penuh ironi dan paradoks.

Rima adalah gadis tegar dan cerdas walaupun tidak menolak minum bir sampai mabuk, atau dibawa ke tempat gelap untuk dicumbu. Ia bisa punya kharisma, dan tidak sembarangan pria bisa menjadi pacarnya. Ia sekaligus seorang pemilih, seorang yang choosy, tetapi juga seorang yang setia kepada sahabat-sahabat prianya. Ia bisa terpesona sampai ke tulang sum-sum pada seorang pria (salah satunya Kino), tetapi juga bisa berang dan menghujat pria (salah satunya adalah Ayahnya).

Kekontrasan pun berlanjut di segala aspek: Ia anak orang kaya karena Ayah adalah seorang pengusaha sukses, tetapi pakaiannya sederhana dan hidupnya sama sederhana dengan mahasiswa semacam Kino yang datang dari kota kecil. Ia bisa bergaul dengan yuppies di berbagai night club di ibukota, tetapi tak juga malu makan di warung kecil di seberang kampus.

******

Lalu tentang Kino. Kalau kini ia marah besar kepadanya, itu adalah karena ia tak sanggup melihat pemuda itu terlibat dalam penghianatan seorang istri. Bagi Rima, penghianatan dalam perkawinan adalah sebuah kesalahan besar. Rima tak mau menerima apa pun alasan seseorang berhianat kepada perkawinan. Kehilangan Ibu dan punya Ayah yang amburadul membuat gadis ini mendamba keutuhan keluarga. Ia tak rela ketika tahu Kino memacari istri orang, karena ia ingin pemuda itu tetap menjadi panutannya.

Dengan getir, Rima menyadari, harapan itu semakin pupus. Dengan getir, Rima sadar bahwa ia mungkin harus terus mendaki untuk mencari ketinggian yang paling melegakan. Maka ia pun terus mendaki dan mendaki lagi. Gunung demi gunung ditaklukkannya. Puncak demi puncak didudukinya. Setiap kali hatinya gundah, ia akan mencari gunung untuk didaki. Setiap kali mencapai puncak gunung, ia mendapatkan kelegaan di sana, tetapi setiap kali pula ia harus turun ke dunia yang hiruk-pikuk.

Malam itu, ketika Rima mendengar kabar kecelakaan yang dialami Kino, ia terkesiap dan mengeluh dalam hati, “Mampukah aku mendaki gunung yang satu ini?”