Diana di Perkosa 3 Orang Laki-Laki

Diana di Perkosa 3 Orang Laki-Laki

Kisah ini bercerita tentang seorang gadis yang bernama Diana Purnamasari, gadis cantik, manis, ceria dan mudah sekali bergaul, tinggi kira-kira 165 cm dengan berat badan yang proposional.

Tubuh gadis tersebut sangat sintal, apalagi payudaranya yang berukuran 34B. Apalagi pakaian yang digunakannya selalu ketat dan membentuk lekuk tubuhnya, meskipun dalam kesehariannya selalu menggunakan kerudung.

Selepas sekolah di sekolah kejuruan di kotanya, karena keterbatasan biaya maka Diana memutuskan untuk bekerja, maklum orang tua Diana bukanlah orang yang berada.

Setelah dua bulan nganggur akhirnya Diana diterima disebuah pabrik tekstil dan waktu kerjanya menggunakan sistem shift.

Selama satu bulan banyak sekali pemuda di pabrik itu yang menginginkan dia sebagai pacarnya, bahkan bapak-bapak di pabrik tersebut pun senang dengannya, karena Diana memang supel dan mudah bergaul, sehingga tidak heran bila dia menjadi idola baru di pabrik tersebut.

Malam itu Diana baru pulang jam 10.30 malam, maklum Diana kebagian shift sore. Pulang dari pabrik Diana memang diantar menggunakan jemputan tetapi hanya sampai titik-titik tertentu, sehingga tidak langsung menuju rumahnya dan Diana harus naik ojek lagi untuk sampai kerumahnya.
“Emmmhhh, ngak ada ojek satupun nih…”, dalam hati Diana,
Terpaksa Diana berjalan kaki menuju rumahnya yang lumayan masih jauh.

Diana pulang menyusuri jalan sepi,
“Emmhhh enak lewat pesawahan nih, biar bisa cepet sampe rumah”, ujar Diana.
Tepat sebelum pesawahan ada sebuah pos hansip, disana ada empat preman desa yang sedang main kartu mereka adalah Joni, Asep, Saepul dan Jajang. Muka mereka lumayan sangar-sangar apalagi mereka berempat habis minum-minum.

“Eh…liat tuh ada cewe menuju kemari…”, ujarAsep kepada teman-temannya.
Otomatis ketiga pemuda pengangguran itu melihat kearah Diana.
“Emh… mau kemana neng malem-malem”, ujar Jajang kepada Diana.
Diana tidak memperdulikan dan mempercepat langkahnya. Joni melompat dari pos satpam dan mendekati Diana.
“Dingin-dingin begini mendingan neng nemenin kita…hehehe…”, sambil berusaha memeluk Diana.
“Ihhh… apaan sih…”,
Tanpa sengaja Diana menampar muka Joni.

Muka Joni merah padam menerima tamparan dari Diana.
“Kamu jangan macam-macam”, ujar Joni, seraya mengeluarkan pisau lipatnya dan menempelkannya dileher Diana.
“Maaf kang, saya ngak bermaksud…”,
Belum selesai Diana berucap sebuah tamparan dari Joni mendarat dipipinya “Plakkk”.

“Sudah Jon… kita garap saja cewe ini…” teriak Jajang dari dalam Pos.
Sementara Asep yang sudah berada dibelakang Diana menelikung tangan gadis berjilbab tersebut.
“Kita garap dirumah kosong ditengah sawah saja…, biar ngak ada yang tahu”, Saeful berujar sambil mendekati mereka bertiga.
Mendengar ucapan-ucapan para berandalan itu wajah Diana pucat pasi.
“Jangan…. Tolong lepaskan saya….”, ujar Diana, tampak diujung kelopak matanya setetes air mata.

Keempat berandalan itu tidak menggubris ucapan Diana, mereka menyeret tubuh Diana ketengah sawah yang sudah mengering menuju sebuah rumah kosong di tengah sawahtersebut. Diana sempat menjerit meminta tolong, tetapi sebuah tamparan menghentikan teriakannya.
“Diam kamu …., apa kamu sudah bosan hidup”, hardik Joni kepada Diana.

Sesampainya dirumah kosong yang terbuat dari bilik tersebut, tubuh Diana didorong hinggaterjerembab diatas bale-bale. Kedua tangan Diana diikat diatas bale-bale.
“ammppuunn, tolong lepaskan saya, jangan perkosa saya.…hik…hik”, Diana memohon kepada para berandalan tersebut, yang disambut oleh gelak tawa keempatnya.

“brreetttt…”, kancing baju Diana terlepas ketika Joni membuka paksa baju kerja yang digunakan, dengan pisau lipatnya bra Diana pun diputusnya hingga terlihat bongkahan payudara yang sekal dan ranum.
“wah… gede juga nih toket”, kata Joni sambil meremas-remas payudara Diana.
“Ohh… Jangan…”, rengek Diana tidak berdaya.
“Sudah, kamu nikmati saja….”, ujar Saeful sambil memainkan sebelah payudara Diana.

Kini payudara Diana dimainkan oleh Saeful dan Joni. Keduanya kadang meremas, menghisap payudara Diana. Sementara Jajang menarik celana dan celana dalam Diana hingga terpampanglah vagina ranum yang disertai bulu-bulu tipis.
“Vaginanya bagus nih…keliatannya peret…emmhhh wangi lagi…”, ujar Jajang.
Kini tubuh Diana cuma terbalut jilbab yang dililitkan dilehernya.

“Aahhh jangan….”, jerit tertahan Diana ketika Jajang mulai mencolok jarinya ke vagina Diana.
“Ahhh….tolll”,
Belum selesai Diana berkata Asep mengulum mulut gadis itu dengan mulutnya yang bau alkohol. Sementara Jajang membenamkan wajahnya dikemaluan gadis tersebut dan menjilati vagina sambil memainkan klitoris dari Diana menggunakan lidahnya.

Diransang dari segala arah mau tidak mau Diana mulai teransang, pagutan Asep mulai dibalas oleh Diana, keduanya saling memainkan lidah. Sementara payudara Diana semakin mengeras dan putingnya pun membesar menerima ransangan dari Joni dan Saeful dan dibawah Jajang sedang asik menjilati klitoris Diana sambil mencolok-colok vagina tersebut dengan jarinya, vagina Diana sudah mulai becek.

Secara bergantian keempat berandalan itu meransang setiap daerah sensitif Diana dan entah kapan keempat pemuda sekarang hanya menggunakan celana dalam, tidak sampai 10 menit, tubuh Diana tampak mengejang dan
“Ahhhh…..”,
Dari vagina mengucur deras cairan cinta Diana.
“Hahaha… ternyata cewe berjilbab juga bisa orgasme…”, kata Asep sambil melihat ke arah vagina Diana.
“Iya…. Kaya lonte yang suka aku pakai..”, seru Jajang sambil merabai tubuh Diana.
Mendengar penghinaan itu wajah Diana tampak memerah, rasanya ingin marah tetapi apa daya tenaganya belum pulih meski tangannya sekarang telah dibuka ikatannya.

Tiba-tiba Joni menjambak jilbab putih milik Diana,
”Heh… lo pelacur ya….”, hardik Jonike pada Diana.
“Sa..saya.. bukan pelacur…”, jawab Diana.
“Alah… udah ngaku aja, tadi lo nikmatinkan?”, timpal Jajang.

”Ayo… jawab…”, bentak joni didepan muka Diana.
“Iy…Iy…saya pela…cur…”, jawab Diana ketakutan.
Matanya sudah sembab.
“Hahaha…. Akhirnyan ngaku juga…”, ujar Saeful.

“Biasanya pelacur mau apa …”, kembali Asep ikut nimbrung membentak Diana
Diana hanya diam mukanya tiba-tiba
“Pllakkk, Jawab…lonte…”, sebuah tamparan kembali mendarat diwajah Diana.
“Ma…mau penis…”,jawab Diana ditengah ketakutannya.

“Ini namyanya penis cantik.”, Jajang maju sambil mengacungkan penisnya didepan muka Diana.
Diana mencoba memalingkan muka tapi kepalanya ditahan oleh Joni.
“Jon, suruh dia jilatin kolor gw, udah 3 hari belum dicuci”, kata Asep seraya melemparkan celana dalamnya.
“Dengar apa kata temanku…kerjakan…”, ucap Joni sambil mendorong tubuh Diana.

Diana tidak menyangka akan dilecehkan sedemikian rupa tapi apa daya dirinya tidak mungkin melarikan diri dari tempat tersebut, tangan Diana bergetar mengambil celana dalam Asep dan mulai menjilatinya. Diana mau muntah mencium bau yang menyengat dari celana dalam itu. Tapi diana menahannya.

Gelak tawa mewarnai rumah kosong itu melihat Diana yang sedang menjilati celana dalam. Panas rasanya telinga Diana menerima cemoohan dari mereka berempat, tetapi ada rasa lain semakin lama Diana menjilat celana dalam tersebut, dirinya merasa teransang, Diana membayangkan rasanya menjilat penis.

“Heh…Pecun… daripada lo jilat kolor gue.. lebih baik lo kesini jilatin penis gue…”,
Dengan perlahan Diana mendekati Asep, saat Diana mencoba meraih penis Asep, tangannya ditepis.
“Mo ngapain lo…mo penis gua…minta yang bener donk”, hardik Asep, membuat kuping Diana memanas.
“Kang…Boleh sa…saya ngi…ngisap… dan ngejil…jilat… penisnya…”, kata Diana terbata-bata, menahan rasa amarah di dadanya.
“Jilat…dan Emut Cantik…Tapi awas jangan digigit…”

Diana secara perlahan memegang penis Asep yang diluar ukuran biasa, diantara mereka berempat memang penis Asep memang yang terbesar dan terpanjang, Maklum Asep adalah salah satu murid dari Ma Erot,
“Ayo, Jilat… jangan Cuma bengong ..”, kata Asep,
Dianapun mulai menjulurkan lidahnya, lidah Diana mulai menyapu ujung penis besar milik Asep,
“Ahh…. Yabe gitu cantik…. Jilat dari pangkal sampai ujung”,

Bau apek penis Asep tidak jauh dari celana dalam yang di jilat oleh Diana. Diana menjilat penis Asep, mulai dari pangkal sampai ujung penisnya, sesekali ujung lidah gadis berjilbab itumemainkan liang penis Asep, dan buah zakar Aseppun tak luput dari kuluman danjilatan Diana.

“Ahhh… Kamu pintar…terus sepong penisku…lonte…”, seru Asep,
Hinaan terhadap Diana kini merupakan sanjungan buatnya, yang sedang teransang. Diana memasukan penis tersebut kedalam mulutnya. Sementara Asep memegang kepala Diana dan menekannya supaya penisnya mentok di tenggorokan gadis itu.

Sementara itu ketiga temannya tidak tinggal diam, Saeful dan Jajang menggerayangi tubuh indah Diana, sedangkan Joni sedang memainkan jarinya didalam vagina Diana. Joni yang sudah tidak tahan langsung mengarahkan penisnya ke vagina Diana, dengan kasar Joni berusaha memasukan penisnya tersebut dan masuklah kepala penis Joni di vagina Diana yang mulai basah kembali.

“Ini hukuman buatkamu…karena tadi menampar aku”, dengan kekuatan penuh dan sambil menahan pinggang Diana, penis milik Joni amblas seluruhnya kedalam vagina Diana dan membuat selaput dara milik gadis berjilbab itu pecah.
“Acckkhh…”, terdengar jerit tertahan Diana yang merasakan sakit di vaginanya,namun mulutnya dipenuhi oleh penis Asep yang sedang memaju-mundurkan pantatnya seolah sedang bersenggama.

Kini gadis berjilbab itu bagai di sandwich, dua lubang dari depan dan belakangdimasuki oleh penis. “plookk…..pllookkk…plookk”, terdengar sangat jelasbenturan antara Joni dan selangkangan Diana, semakin lama rasa ngilu di vagina Diana berubah menjadi rasa nikmat yang belum pernah didapatnya. Diana terlarut dalam birahi, membuat dirinya semakin kuat menghisap penis milik Asep.

Asep tiba-tiba melepaskan penisnya, sedangkan dibelakang pun Joni menghentikan sodokan terhadap Vagina Diana.
“Siapa namamu Neng geulis….”, Tanya Asep kepadaDiana,
“Di…Diana…kang”, kata Diana tersengal-sengal
Sebetulnya Diana masih ingin di senggamai, tetapi karena berhenti tiba-tiba membuat birahinya tidak menentu.

“Diana, suka di ent0t…, Diana suka penis ku…”, Tanya Asep kepada Diana.
“Emmhh… Diana suka penis…, Diana suka dient0t…..”, jawab diana meluncur begitu saja.
Joni pun tersenyum dan mulai menggenjot kembali vagina Diana dengan irama yang cepat.
“Ahhh…, iyaa…enakk…teruss”, jerit Diana,
Semua berandalan itu cekikikan mendengar ocehan Diana.

Sementara sekarang penis Saeful berdiri tegak di depan Diana, tampa di komando Diana membuka mulutnya dan mengulum penis milik Saeful.
”Ahhh…enak…banget nih…sepongannya..”, oceh Saeful sambil menjambak jilbab sang gadis berjilbab,
“Iya .. pul…disini juga nikmat… seret…”, kata Joni sambil mempercepat genjotan terhadap Diana.

Saeful yang memang sudah ingin ereksi tak lama kemudian memuntahkan spermanya dimulut Diana
“Ahhhh…”, seru Saeful sambil menekan kepala Diana hingga mentok diselangkangannya.
Diana langsung menelan sperma yang tertumpah dimulutnya, dan penis Saeful dijilatnya hingga bersih.

“Wah,cewe ini doyan peju juga…..”, ujar Jajang yang belum kebagian dari tadi.
Wajah Diana memerah malu, tapi itu tidak lama, karena dorongan birahi dari belakang semakin gencar.
”Ahhhhh…”, Diana memuntahkan kembali cairan cintanya. Seraya Joni mengeluarkan penisnya.
Terlihat cairan cinta bercampur darah perawan dari Diana.

Sementara Diana duduk bersimpuh menerima sperma dari Joni
“habiskan…ahhh….”,
Seluruh isi sperma yang meluncur dari dalam penis tersebut diminum oleh Diana.

Diana yang sekarang sudah dikuasai oleh birahi, dirinya telah melupakan bahwa dia sedang diperkosa.
“Kamu masih mau dient0t.”, Tanya Asep kepada Diana,
Diana cuma mengangguk. Asep kemudian tiduran diatas bale-bale,
“Masukan penisku kedalam vaginamu sayang”,

Diana kemudian menaiki bale-bale. Diana mengangkang diatas tubuh Asep, penis Asep dipegang oleh Diana kemudian diarahkan menuju vaginanya. Penis besar milik Asep perlahan memasuki vaginanya…
”Ahhhh….Saakiitttt…”, ketika kepala penis Asep memasuki ruang vagina Diana.

Setengah penis Asep memasuki vagina Diana, melihat hal tersebut Jajang menaiki bale-bale dan menekan tubuh Diana sekaligus, hingga Amblas semua penis milik Asep,
“Ahhhh…sakiittt…ampunn…keluarin lagi”,
Diana tidak kuasa menahan sakit, vaginanya terasa dirobek. Tubuh Diana roboh diatas tubuh Asep.

Asep membalikan posisinya, sehingga Diana yang dibawah, kaki Diana diangkat dan direntangkan.
“Tenang sayang, nanti kamu akan menyukainya…”
Asep memulai ngenggenjot vagina sang gadis berjilbab.
“Ahhh… Tidak… sudahh… Sakiiit…”, teriak sang gadis berjilbab.

Tetapi Asep tetap menggenjot vaginanya, setiap penis Asep keluar masuk liang vagina Diana selalu menyentuh klitorisnya, sehingga membuat gadis tersebut terangsang.
“Ahhhh…Ohhhh…..nikmatt…teruss…dimasukan penisnya”, erang Diana menikmati genjotan Asep.
“Ohhh…enak…sekali…remasan …Vaginamu …”, kata Asep kepada Diana.
“Ahhh… Diana….Mauu”, Erang Diana mengeluarkan orgasmenya.

Asep belum menunjukan akan keluar, Asep terus menggenjot tubuh Diana kadang dalam tempo sedang kadang dalam tempo cepat, membuat Diana kembali teransang.
“Ahh…jangan…lepaaskan…penismu”, Diana menyeracau.
“Kamu suka penis dimasukin ke vagina kamu….kamu suka dient0tin penis gede?”, Tanya Joni ke Diana.
“Ahhh…Iya…Diana suka…dient0t”, Jerit Diana meradang seolah meminta terus disetubuhi.

“Ahhhh…Aku keluarrr…”,
Lagi-lagi tubuh Diana mengejang dan orgasme, tubuh Diana melemah tetapi Asep masih gencar memacu penisnya. Membuat Diana kembali teransang menikmati setiap genjotan Asep dan kembali orgasme dalam jarak tidak sampai 3 menit. Diana sudah mendapatkan Orgasme ke limanya semenjak di genjot oleh Asep.

“Ahhh…Aku…Kelarrrr…”
Diana kembali mengerang yang ke enam kalinya dan membuat dirinya tidak sadarkan diri karena kecapaian. Tidak lama kemudian
”Ahhh…Crott…Crott…”, Asep mengerang sambil membenamkan penisnya dalam-dalam
Peju Asep memenuhi ruang rahim Diana dan akhirnya Asep roboh disebelah tubuh Diana. Terlihat lelehan sperma yang keluar di bibir vagina Diana.

Jajang yang belum mendapatkan jatah segera membalikan tubuh Diana yang tak sadarkan diri. Jajang yang tengah dilanda birahi menggarap anus sang gadis tersebut seperti orang kesetanan, tubuh Diana bagaikan seonggok daging yang tidak berdaya. Tidak sampai sepuluh menit Jajang sudah mengeluarkan pejunya.

Setelah puas melakukan pemerkosaan terhadap Diana, mereka berempat segera meninggalkan Diana yang masih tidak sadarkan diri, ketika pagi hari seorang petani menemukan Diana dan mengantarkan kerumahnya. Kasus pemerkosaan terhadap Diana ditutup polisi karena Diana tidak memberikan keterangan yang berarti kepada aparat. Sedangkan Diana sendiri kadang terlihat murung, baik dirumah maupun ditempat kerjanya.

Satu bulan telah berlalu semenjak kejadian tersebut, Diana yang kebagian shift sore hari itu pulang jam 10.30, setelah turun dari bis jemputan Diana tampak seperti orang yang tengah bimbang. Kemudian dia berjalan menuju tempat dia bertemu dengan ke empat pemuda berandalan tersebut.

Keempat berandalan tersebut terkejut ketika melihat Diana sudah ada didepan pos tempat,
“Mau ngapain kamu kesini, Mau di ent0t lagi….”, Tanya Joni kepada Diana yang tampak tertunduk,
“Aku…Ma…Mauu… di…se…setubuhi…”, Jawab Diana pelan dan terbata-bata.
“Vagina kamu minta di ent0tin lagi ma penisku”, Tanya Asep kepada Diana, dan Diana pun hanya mengangguk.

Keempat pemuda tersebut tersenyum, Asep kemudian merangkul tubuh Diana dan mengajaknya duduk diantara mereka. Malam itu Diana kembali digilir oleh keempat pemuda tersebut, tetapi kali ini Diana melakukan dengan suka rela. Diana menjadi seorang hypersex, dan selalu haus akan sex, Diana rela dirinya menjadi pelampiasan nafsu laki-laki asalkan dirinya mendapatkan kepuasan.